TransTRACK Dorong Transformasi Kendaraan Listrik di Sektor Pertambangan, Hadirkan Solusi EV Tanpa CAPEX dan Sistem Monitoring Terintegrasi

TransTRACK Dorong Transformasi Kendaraan Listrik di Sektor Pertambangan, Hadirkan Solusi EV Tanpa CAPEX dan Sistem Monitoring Terintegrasi

Jakarta, 5 Maret 2026 — Transformasi kendaraan listrik (EV) di sektor pertambangan menjadi fokus utama dalam webinar bertajuk “Driver Monitoring Technology in EVs for Safer, More Efficient, and More Sustainable Mining Operations” yang telah sukses diselenggarakan pada 26 Februari 2026. Webinar ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Levina Herwanto, Chief Business Development SUN Mobility, serta Ndaru Ruseno, VP of Business Development TransTRACK.

Webinar TransTRACK ini membahas peran teknologi dalam mendorong adopsi EV di industri pertambangan, sekaligus menekankan pentingnya sistem keselamatan berbasis data seperti Driver Monitoring System (DMS) dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional.

Dalam paparannya, Levina Herwanto menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam adopsi kendaraan listrik di sektor komersial dan pertambangan adalah tingginya investasi awal (CAPEX), di mana harga kendaraan listrik dapat mencapai 1,5 hingga 2 kali lipat dibandingkan kendaraan diesel.

Levina Herwanto, Chief Business Development dari SUN Mobility, menyampaikan, “Tantangan terbesar adopsi kendaraan listrik di pertambangan adalah tingginya CAPEX. Harga EV bisa mencapai 1,5 hingga 2 kali lipat dari kendaraan diesel. Karena itu, kami menghadirkan solusi end-to-end tanpa CAPEX, sehingga pelaku industri dapat langsung bertransformasi tanpa beban investasi awal.” 

Sebagai orkestrator transformasi EV di industri komersial, SUN Mobility menghadirkan solusi end-to-end berbasis plug-and-play tanpa CAPEX bagi pelaku industri. Solusi ini mencakup fleet planning, pembiayaan, maintenance, ketersediaan suku cadang, hingga penyediaan infrastruktur charging. Pengguna cukup memberikan data lokasi operasional, kemudian tim SUN Mobility akan menganalisis kebutuhan apakah memerlukan substation atau cukup charging station standar.

Di tengah kenaikan biaya operasional tambang dan turunnya harga batubara, optimalisasi biaya menjadi urgensi. Peralihan ke EV dinilai mampu menghadirkan potensi penghematan hingga 85%, tergantung pada sumber energi listrik yang digunakan. Untuk tambang nikel, tuntutan penggunaan energi berkelanjutan juga semakin tinggi, sehingga EV menjadi bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang.

Menjawab kekhawatiran terkait keamanan EV di medan tambang yang terjal, Levina menegaskan bahwa EV justru memiliki keunggulan melalui sistem regenerative braking, di mana energi yang dihasilkan saat kendaraan menuruni medan akan kembali mengisi baterai. Selain itu, torsi kendaraan listrik yang lebih besar memberikan daya tarik lebih kuat, dengan sistem baterai yang telah melalui berbagai pengujian keamanan dan proteksi tambahan.

Perubahan signifikan setelah implementasi EV di pertambangan tidak hanya terlihat dari sisi biaya, tetapi juga pola kerja yang menjadi lebih disiplin, terutama dalam manajemen pengisian daya. Data operasional menjadi lebih transparan, lebih kaya, dan dapat dianalisis secara komprehensif.

Untuk pengisian daya, durasi bergantung pada kapasitas charger: pengisian DC dapat memakan waktu 30–45 menit, sedangkan charger AC umumnya membutuhkan waktu semalaman. Dengan perencanaan rute yang tepat, kendaraan EV dapat beroperasi sekitar 2–3 hari sebelum pengisian ulang.

Dari sisi teknologi keselamatan dan operasional, Ndaru Ruseno memaparkan bahwa TransTRACK menghadirkan solusi end-to-end di sektor pertambangan, mulai dari konektivitas global SIM card maupun satelit, perangkat IoT berbasis sensor, hingga platform berbasis AI dan analisis data.

TransTRACK sendiri telah mengimplementasikan lebih dari 6.000 unit perangkat di berbagai lokasi pertambangan di Indonesia, baik pada kendaraan non-EV maupun EV.

Solusi yang diterapkan mencakup berbagai perangkat dan sensor seperti kamera 360°, Advanced Driver Assistance System (ADAS), Driver Monitoring System (DMS), temperature sensor, PTO monitoring, fuel monitoring, speed buzzer, two-way communication, hingga analisis perilaku pengemudi (driver behaviour).

Risiko terbesar dalam operasional tambang sering kali berasal dari faktor manusia, seperti pengemudi yang merokok saat berkendara, mengantuk, atau menggunakan sunglasses yang mengganggu sistem pengawasan visual. Dengan implementasi DMS, ADAS, dan sensor seatbelt, potensi risiko dapat ditekan secara signifikan melalui deteksi dini dan peringatan real-time.

Ndaru Ruseno, VP of Business Development TransTRACK, menyampaikan, “Risiko terbesar dalam operasional tambang sering kali berasal dari faktor manusia. Dengan Driver Monitoring System dan ADAS, potensi risiko seperti pengemudi mengantuk atau tidak fokus dapat terdeteksi lebih awal.”

Menurut Ndaru, penerapan DMS pada EV di pertambangan tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan penurunan biaya operasional. Pengemudi menjadi lebih percaya diri karena merasa lebih terjaga, sementara manajemen memperoleh visibilitas data yang lebih komprehensif untuk pengambilan keputusan berbasis analitik.

Kedua narasumber sepakat bahwa kunci utama keberhasilan implementasi EV dan teknologi monitoring di pertambangan adalah kesiapan mindset dan strategi jangka panjang.

Ndaru menekankan pentingnya kesepakatan “golden rules” sebelum instalasi sistem, agar seluruh pemangku kepentingan memahami standar keselamatan dan tata kelola data sejak awal. Sementara itu, Levina menegaskan bahwa adopsi EV harus dipandang sebagai langkah strategis dalam gerakan keberlanjutan industri.

Ke depan, dalam 5–10 tahun mendatang, teknologi monitoring seperti DMS dan sistem IoT diprediksi akan menjadi kewajiban di industri pertambangan. Perkembangan teknologi akan semakin masif, dan setiap pelaku industri dituntut untuk beradaptasi dengan standar keselamatan dan efisiensi yang lebih tinggi.

Webinar ini menegaskan bahwa integrasi kendaraan listrik dan teknologi monitoring berbasis data bukan sekadar tren, melainkan fondasi menuju operasional pertambangan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia.

Topik :

beritaevevent

Rekomendasi Artikel