Breakdown Maintenance sebagai Strategi Pemeliharaan Paling Mahal dan Harus Ditinggalkan

Breakdown Maintenance

Breakdown Maintenance merupakan sebuah keadaan ketika aset seperti truk, mesin, atau alat berat dibiarkan rusak total begitu saja sebelum akhirnya diperbaiki. Strategi ini pada faktanya, merupakan strategi pemeliharaan yang berpotensi paling merugikan meskipun memang tampak paling mudah karena hanya dilakukan saat kerusakan terjadi. Breakdown maintenance adalah bentuk pemeliharaan reaktif yang dilakukan sebagai tindakan korektif setelah terjadi kegagalan fungsi, dan biaya yang ditimbulkannya sering kali jauh melebihi biaya perbaikan itu sendiri—meliputi berbagai kerugian lain termasuk waktu dan reputasi. Simak penjelasan lebih lanjut melalui artikel TransTRACK berikut ini!

Dampak Negatif Finansial dan Operasional Breakdown Maintenance

Breakdown maintenance tidak hanya menyebabkan aset berhenti beroperasi total, tetapi juga dapat mengakibatkan biaya tak terduga dalam jumlah yang besar. Setiap kerusakan mendadak bisa menghentikan seluruh alur kerja, menimbulkan keterlambatan distribusi, dan kehilangan peluang serta reputasi bisnis. Selain itu, biaya darurat seperti jasa derek, suku cadang mendadak, hingga lembur teknisi dapat membebani keuangan perusahaan dengan signifikan. Berikut beberapa dampak negatif breakdown maintenance:

Biaya Perbaikan yang Jauh Lebih Tinggi

  • Detail: Kerusakan yang menyebar (collateral damage), misalnya, kerusakan mesin yang disebabkan oleh habisnya oli
  • Biaya: Suku cadang darurat dan biaya lembur teknisi

Kerugian Waktu dan Produktivitas 

  • Detail: Truk yang mogok berarti ritase terhenti, penalti keterlambatan, dan idle time
  • Dampak: Mengganggu keseluruhan jadwal operasional logistik

Risiko Keselamatan dan Reputasi

  • Detail: Kerusakan mendadak (misalnya rem yang blong atau ban yang tiba-tiba pecah) dapat menyebabkan kecelakaan yang fatal
  • Dampak: Kerusakan citra perusahaan di mata klien

Perbandingan: Evolusi Strategi Pemeliharaan Aset

KategoriBreakdown Maintenance (Reaktif)Preventive Maintenance (Terjadwal)Predictive Maintenance (Cerdas)
Kapan dilakukanSetelah aset gagal Berdasarkan waktu/km yang telah ditentukanBerdasarkan kondisi aktual aset
BiayaSangat tinggi (darurat)Moderat (ganti suku cadang yang masih bagus)Paling rendah (optimalisasi waktu)
Pendeteksi Gagal totalKalender/odometer Sensor/AI/FMS
TujuanMengembalikan fungsi Mencegah kegagalan Mengoptimalkan usia pakai dulu cadang

Transisi ke Preventive dan Predictive Maintenance

Untuk menghindar dari kerugian berulang akibat breakdown maintenance, perusahaan perlu beralih ke strategi yang lebih proaktif. Preventive dan Predictive Maintenance menawarkan pendekatan jangka panjang yang berfokus pada pencegahan sebelum kerusakan terjadi. Dengan pemeliharaan terjadwal dan berbasis data, perusahaan dapat menjaga aset tetap optimal sekaligus menekan biaya perbaikan mendadak.

Langkah Awal: Implementasi Preventive Maintenance

  • Fokus: Mengubah mindset dari menunggu kerusakan menjadi menjadwalkan perbaikan secara berkala (ganti oli, filter, memeriksa mesin dan bahan bakar)
  • Alat Bantu: Menggunakan FMS untuk notifikasi servis berdasarkan KM aktual, bukan berdasarkan estimasi tanggal.

Tujuan Akhir: Mencapai Predictive Maintenance

  • Fokus: Menggunakan IoT (sensor diagnostik) dan AI/ML untuk memprediksi kapan sekiranya komponen akan gagal (mulai tidak berfungsi)
  • Alat Bantu: FMS seperti (TransTRACK) yang memproses data sensor mesin untuk memperkirakan umur komponen yang tersisa.

Peran Teknologi FMS dalam Menghilangkan Breakdown Maintenance

Mengelola perawatan armada tidak lagi bisa hanya bergantung pada aksi reaksi setelah kerusakan armada terjadi, hal ini hanya akan menimbulkan dan menyebabkan kerugian yang lebih besar di masa depan. Kini, teknologi seperti Fleet Management System (FMS) memungkinkan monitoring kondisi kendaraan secara real-time, akurat, dan prediktif. Dengan memanfaatkan FMS, perusahaan dapat beralih ke pendekatan perawatan yang lebih cerdas dan terukur tanpa harus mengubah seluruh sistem operasional secara drastis. Berikut beberapa contoh peran FMS dalam upaya menghilangkan Breakdown Maintenance:

  • Monitoring Kesehatan Aset: Sensor FMS memonitor kondisi mesin secara real-time dan akurat (suhu, tekanan oli)
  • Notifikasi Dini Defect: Pengemudi dapat melaporkan masalah kecil (defect) melalui aplikasi digital Vehicle Inspection sebelum berangkat
  • Audit Trail: FMS mencatat riwayat perbaikan, memastikan tidak ada servis dan bagian komponen yang terlewat.

Kesimpulan

Breakdown maintenance adalah kebiasaan pemeliharaan yang tampak paling mudah dan praktis namun membawa risiko dan biaya paling besar dalam jangka panjang. Beralih ke Preventive dan Predictive Maintenance dengan dukungan data dari Fleet Management System adalah solusi strategis untuk memastikan efisiensi biaya dan ketersediaan armada. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan lebih siap menghadapi tantangan operasional tanpa harus mengorbankan produktivitas.

Jangan biarkan armada Anda menjadi korban breakdown maintenance. Mulai optimalkan jadwal servis Anda dengan FMS TransTRACK. Hubungi kami untuk demo solusi Predictive Maintenance.

Fleet Management System

FAQ

Apa keuntungan utama Predictive Maintenance dibanding Preventive Maintenance?  

Predictive Maintenance mengurangi biaya dengan memastikan suku cadang hanya diganti ketika benar-benar diperlukan, tidak membuang suku cadang yang masih bagus.

Berapa banyak biaya yang dihemat dengan meninggalkan breakdown maintenance?  

Penghematan bisa mencapai 20–40% dari total biaya perawatan dalam jangka panjang karena menghilangkan perbaikan darurat dan kerugian waktu.

Apa perbedaan antara Preventive dan Predictive Maintenance dalam praktiknya?  

Preventive Maintenance dilakukan berdasarkan jadwal tetap, sedangkan Predictive Maintenance berdasarkan kondisi aktual aset menggunakan sensor dan data.

Bagaimana FMS membantu menjalankan Predictive Maintenance secara efisien?  

FMS memantau kondisi kendaraan secara real-time dan memberikan notifikasi saat parameter tertentu menunjukkan risiko kerusakan.

Apakah perusahaan kecil juga perlu menerapkan Predictive Maintenance?  

Ya, karena strategi ini membantu menekan biaya operasional dan menjaga keandalan armada, terlepas dari skala bisnis.

Topik :

perawatan kendaraan

Rekomendasi Artikel